Ada satu kalimat yang selalu muncul kalau orang ngobrolin W124: "Mercy terakhir yang dibikin tanpa mikirin biaya." Klise, tapi tiap kali kamu menutup pintunya dan mendengar bunyi tok yang padat itu, kalimat tadi terasa masuk akal. Di Indonesia dia dipanggil Mercy Boxer — dan setelah tiga dekade, dia masih jadi salah satu cara termurah untuk merasakan mobil mewah yang benar-benar dibangun dengan serius.
W124 diproduksi Mercedes-Benz dari 1984 sampai 1995 untuk versi sedan, menggantikan W123 yang di sini akrab disebut Mercy Tiger. Pada 1993 lini ini resmi dinamai ulang jadi E-Class — jadi mobil yang sama bisa datang dengan emblem "300E" atau "E320", tergantung tahunnya.
Sejarah Singkat
W124 dikembangkan pada masa Mercedes masih memakai standar teknik yang kelewat batas. Bodinya dilapisi antikarat menyeluruh, aerodinamikanya digarap sampai koefisien hambat sekitar 0,29 — angka yang saat itu luar biasa untuk sedan tiga kotak — dan yang paling penting, dia jadi mobil pertama Mercedes yang memakai suspensi belakang multi-link, desain yang kemudian ditiru hampir seluruh industri.
Di Indonesia, W124 mulai dipasarkan sekitar 1986. Sepanjang masa edarnya, ada beberapa varian yang beredar resmi: 200 dan 230E dengan mesin empat silinder M102, 300E dengan enam silinder segaris M103, lalu setelah facelift muncul E220 bermesin M111 dan E320 dengan M104 enam silinder. Pada pertengahan 90-an sempat hadir edisi terbatas khusus Indonesia bernama Masterpiece, lengkap dengan trim kayu, setir tilt elektrik, dan gorden kaca belakang elektrik — sampai sekarang varian ini yang paling diburu kolektor lokal.
Spesifikasi (230E, varian paling umum di Indonesia)
| Mesin | M102, 4 silinder segaris, 2.298 cc, SOHC 8 katup, injeksi mekanis KE-Jetronic |
|---|---|
| Tenaga | ± 132 PS @ 5.100 rpm |
| Torsi | ± 197 Nm @ 3.500 rpm |
| Transmisi | Otomatis 4-percepatan / manual 5-percepatan |
| Penggerak | Roda belakang (FR) |
| Suspensi | Depan independen, belakang multi-link 5 titik |
| Bobot | ± 1.320 kg |
| Beredar di Indonesia | 1986–1990-an akhir (tergantung varian) |
Kalau menginginkan karakter yang lebih halus, 300E dan E320 dengan enam silinder segaris adalah pilihan yang jauh lebih memikat: suaranya lembut, tarikannya panjang, dan tenaganya di kisaran 190–220 PS. Konsekuensinya, biaya perawatan naik satu tingkat.
Rasa Berkendara
W124 tidak cepat menurut ukuran sekarang, tapi cara dia melahap jalan rusak dan jalan tol panjang masih sulit ditandingi mobil sekelas harganya. Suspensinya menyerap tanpa terasa limbung, kemudi recirculating ball-nya berat dan mantap di kecepatan tinggi, dan kabinnya tetap tenang di 100 km/jam ke atas.
- Posisi duduk tegak dengan visibilitas luar biasa — semua sudut mobil terbaca dari kursi pengemudi.
- Jok orisinalnya keras di lima menit pertama, lalu terasa benar setelah dua jam perjalanan.
- Peredaman bodi dan kualitas material membuat mobil terasa jauh lebih baru dari usianya.
- Matic 4-percepatannya halus tapi lambat berpikir; ini mobil jelajah, bukan mobil kejar-kejaran.
Penyakit Khas
Reputasi bandel W124 sering bikin orang lengah. Mobil ini memang kuat, tapi ada beberapa pos yang hampir pasti minta jajan, dan sebagian bisa mahal.
- Kabel bodi getas. Unit produksi awal 90-an memakai isolasi kabel berbahan ramah lingkungan yang lama-lama pecah dan menempel. Akibatnya korsleting acak dan check engine yang aneh-aneh. Ganti wiring harness bukan pekerjaan murah, tapi ini penyakit paling penting untuk dicek.
- Karat tersembunyi. Cek talang air, bibir fender, dudukan kaca belakang, dan lantai bagasi. Bodinya antikarat, tapi umur dan bekas ketok yang asal tetap membuka jalan.
- AC. Sistem pendingin W124 rumit dan komponennya tidak murah. Pastikan dingin merata dan flap-nya bekerja.
- Kaki-kaki. Multi-link belakang punya banyak bushing dan link. Kalau semua diganti sekaligus, biayanya lumayan — tapi hasilnya mobil terasa baru lagi.
- Kelistrikan kenyamanan. Power window, jok elektrik, dan modul pengunci pusat termasuk yang paling sering rewel di unit tua.
Plus & Minus
Kelebihan
- Kualitas bahan dan perakitan di atas rata-rata mobil sezamannya
- Kenyamanan jarak jauh yang masih relevan sampai hari ini
- Desain kotak yang tidak pernah kelihatan ketinggalan zaman
- Komunitas dan bengkel spesialis Mercy tua cukup banyak di kota besar
- Harga masuk jauh lebih murah dari kesan mewah yang dia berikan
Kekurangan
- Biaya perbaikan per item lebih mahal dari motuba Jepang
- Masalah kabel bodi bisa jadi bom waktu kalau belum ditangani
- Bobot besar plus mesin lama berarti konsumsi bensin tidak ramah
- Unit murah sering menyimpan tumpukan pekerjaan tertunda
- Sparepart orisinal untuk trim tertentu sudah mulai langka
Harga Pasaran & Tips Berburu
Di pasar bekas Indonesia, W124 sehat umumnya bergerak di rentang 60–135 jutaan, bergantung varian, tahun, dan kondisi. Unit 230E dan 300E biasanya ada di bawah, sementara E320 dan varian Masterpiece yang orisinal berada di papan atas dan cenderung terus naik.
- Prinsip lama tetap berlaku: beli unit termahal yang mampu kamu beli, bukan yang termurah yang bisa kamu tawar.
- Bawa senter dan cek kolong dengan serius. Karat struktural jauh lebih mahal daripada mesin bermasalah.
- Buka kap mesin dan tekuk pelan salah satu kabel; kalau isolasinya retak, siapkan anggaran wiring.
- Cek keaslian interior — trim kayu, jok, dan door trim orisinal sangat menentukan harga jual kembali.
- Tanya bengkel langganan pemilik sebelumnya. Riwayat servis yang rapi lebih berharga dari cat baru.
Galeri
Verdict: Mewah Murah, Asal Beli yang Benar
W124 memberi pengalaman berkendara yang jauh melampaui harga belinya — selama kamu membeli unit yang sudah beres, bukan proyek. Anggarkan dana perawatan di awal, cari yang riwayatnya jelas, dan mobil ini akan menemanimu bertahun-tahun tanpa banyak mengeluh.